Bagaimana perjalanan kali ini? Semoga menyenangkan ya! Dan tentunya, selamat datang juga di Terminal Menyapa Mentari. Tempat parkir FuadNyong, seorang penggemar armada transportasi umum. Boleh dibilang Bismania, walo kadang juga selingkuh dengan kereta. Silahkan jalan-jalan di Terminal ini, tak ada calo, copet, bebas pengamen dan pedagang asongan. Tetap berhati-hati di jalan raya, selamat melanjutkan perjalanan semoga selamat sampai tujuan.

Mempersiapkan Kematian


Hidup sebenarnya cuma mampir minum, nunut ngumbe kata orang jawa. Dan setiap hari kita mempersiapkan kematian kita sendiri-sendiri dengan cara kita masing-masing. Bukan pertanyaan sederhana ketika mungkin temanmu berkata sudah siapkah kita menghadapi kematian? Dengan jalan apa kamu menjemput ajal itu?. Saya yakin, sedikit yang bisa menjawab dengan lancar layaknya ujian tengah semester kemaren itu.

Mari mempersiapkan kematian, sebelum ajal itu datang menjemput. Dan inilah kisah kematian sebuah Perusahaan Otobus yang menempuh trayek Jogja-Purwokerto.

Di tahun 90-an siapa yang tidak kenal Po. Raharja? Sebuah perusahaan otobus yang bermarkas di Kulon Progo ini adalah penguasa jalur patas AC Jogja-Purwokerto. Mungkin beberapa pembaca juga masing ingat dengan Bu Indah, satu-satunya sopir wanita di Po. Raharja yang berangkat jam 6 pagi dari Terminal Jogja (Bu Indah sekarang uda pensiun setelah suaminya yang juga sopir di Po. Raharja meninggal sewaktu menjalankan tugas). Nama RAHARJA adalah manifestasi sebuah kenyamanan, kecepatan, dan sedikit kesombongan di jalan raya. Menikmati mesin Hino yang sedang jaya-jayanya pada masa itu ditemani sebotol Coca-Cola plus semilir AC membuat penumpang sedikit mendongakan kepala ketika kebetulan bersebelahan dengan bus ekonomi di lampu bangjo. Hampir seluruh jam trayek Jogja-Purwokerto (dan sebaliknya) dikuasai oleh Po. Raharja, gada bus sejenis yang berani mengganggu.

Sekali lagi, semuanya sedang menyiapkan kematian dengan caranya masing-masing. Mempertahankan lebih sulit dari meraihnya, dan kesuksesan Po. Raharja membuat Juragannya terlena. Ya, bisnis kayu jati rupanya membuat Juragan Po. Raharja sejenak untuk kemudian terlena sepenuhnya. Juragan lebih memilih bisnis kayu daripada mempertahankan kesuksesan Po. Raharja. Ikutnya Juragan ke dalam bisnis kayu lebih banyak didukung oleh kenalnya sang Juragan dengan pejabat pemerintah. Tau sendiri kan, HPH susah kalo ga kenal petinggi... Perkenalannya dengan petinggi pemerintah rupanya ikut menyeret Juragan ke kancah politik. Pada waktu pemilihan Bupati Kab. Banjarnegara, Juragan Po. Raharja membantu Pak Djasri untuk maju menjadi bupati (akhirnya Pak Djasri berhasil menjadi bupati). Tapi inilah yang membuat Po. Raharja kehilangan prioritasnya, garasi di Kulon Progo sudah berganti kandang kayu, bus-bus tak lagi minum solar, beralih ke irex. Kondisi bus gak kerawat, kadang malah banyak kecoanya, televisi sekedar pajangan tanpa pernah mengeluarkan suara dan gambar (Cerita ini sebelas duabelas dengan Po. Dieng Indah di Wonosobo yang juga bangkrut setelah Juragannya ikut politik). Po. Raharja kehilangan positioningnya dan kehancurannya makin nyata ketika 13 trayek Jogja-Purwokerto dijual ke Po. Efisiensi.

Sisa-sisa kejayaan Po. Raharja saat ini sedikit terlihat sewaktu pemberangkatan Jama’ah Haji. Walo lebih dikarenakan kedekatan Juragan dengan petinggi pemerintah, Po. Raharja masih saja dipakai buat nganter para Jama’ah Haji ke Bandara Adi Sumarno Solo. Tercatat Kab. Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Bantul masih menggunakan Po. Raharja, entahlah yang jelas saya merasa kasihan dengan Jama’ah Haji, cobaan sudah datang di kampung halaman.....



0 comments:

 

Copyright © 2010-2013 Menyapa Mentari All Rights Reserved | Developed by PIXIAstudio