Bagaimana perjalanan kali ini? Semoga menyenangkan ya! Dan tentunya, selamat datang juga di Terminal Menyapa Mentari. Tempat parkir FuadNyong, seorang penggemar armada transportasi umum. Boleh dibilang Bismania, walo kadang juga selingkuh dengan kereta. Silahkan jalan-jalan di Terminal ini, tak ada calo, copet, bebas pengamen dan pedagang asongan. Tetap berhati-hati di jalan raya, selamat melanjutkan perjalanan semoga selamat sampai tujuan.

Memoles Ulang Sumber Kencono


Masih hangat dalam spion ingatan kita bagaimana media nasional baik cetak maupun elektronik memberitakan kecelakaan Minibus travel dengan bus PO. Sumber Kencono (untuk selanjutnya ditulis Sumber Kencono) di Jalur By Pass, Desa Balongmojo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Senin (12/9/2011). Sebanyak 20 orang meninggal dan puluhan luka-luka. Terlepas dari siapa yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan itu, kita kembali diberi suguhan berita kecelakaan Sumber Kencono. Dari catatan yang diambil dari detik.com dalam 3 tahun terakhir, bus Sumber Kencono terlibat dalam 76 kasus kecelakaan di wilayah hukum Polda Jatim. Akibat kecelakaan tersebut, 73 orang meninggal dunia, 42 korban luka berat dan 72 orang luka ringan! Sebuah angka yang tidak main-main karena ini berhubungan dengan nyawa orang.

Saking seringnya Sumber Kencono terlibat kecelakaan, masyarakat umum memplesetkan namanya menjadi “Sumber Bencono”. Yang artinya kurang lebih sumber bencana. Menyedihkan memang. Perusahaan otobus dengan ratusan armada yang menghidupi ribuan pegawainya ini dikenal orang bukan dengan sesuatu yang membanggakan, melainkan terkenal karena rekam jejaknya yang buruk (Sekali lagi terlepas dari siapa yang salah siapa yang benar). Dan reaksi yang kemudian muncul adalah pembakaran bus Sumber Kencono, pelemparan batu ke badan bus, sampai ancaman sanksi pencabutan trayek oleh Dishub.

Pihak manajemen bukannya tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi permasalahan ini. Berbagai pembenahan dilakukan untuk mengurangi resiko kecelakaan. Mulai dari memasang GPS dalam armadanya, dimana pengemudi yang melewati batas kecepatan tertentu akan dikenai denda, menggunakan sistem premi (bukan setoran), dan bahkan sampai mengganti nama sebagian armadanya menjadi “Sumber Selamat”.

Namun tentunya, penggantian nama menjadi Sumber Selamat dan usaha-usaha lainnya tersebut tidak berpengaruh banyak jika tidak ada perubahan perilaku mengemudi dan berkesadaran bahwa jalan raya adalah milik bersama. Sepintas pula, tanpa mengurangi rasa hormat saya atas itikad baik dari pihak Sumber Kencono dengan ide penggantian nama ini, penggantian nama menjadi Sumber Selamat semakin menguatkan image bahwa dulu naik Sumber Kencono itu memang tidak aman, tidak selamat. Jika ada Sumber Selamat, maka ada pula Sumber tidak Selamat. Ini seperti pikiran bawah sadar kita jika mendengar SPBU “Pasti Pas”, maka pikiran kita pasti mengarah ke pemikiran bahwa ada SPBU yang tidak pas.

Apa yang terjadi pada Sumber Kencono saat ini mirip dengan apa yang pernah dialami PO. Sinar Jaya. Siapa yang tidak kenal dengan Sinar Jaya, khususnya masyarakat di jalur tengah pulau Jawa. Pada waktu itu, kisaran tahun 2001 kalo saya tidak lupa, Sinar Jaya dikenal sebagai bus yang hobinya ngebut. Puncaknya ketika akhirnya 1 bus Sinar Jaya dibakar massa di Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga. Itulah reaksi masyarakat yang geram melihat perilaku ugal-ugalan Sinar Jaya. Setelah itu, Sinar Jaya juga mendirikan “anak bus” dengan nama DMI. Konon katanya, berdirinya DMI dikarenakan persiapan Sinar Jaya jika ancaman pencabutan trayeknya benar-benar dilakukan (klakson me if iam wrong, please - meminjam istilah Mas Ponirin). Mirip-mirip Sumber Kencono yang mengeluarkan nama Sumber Selamat. Sembari membesarkan nama DMI, pembenahan total juga dilakukan Sinar Jaya. Dan sekarang, cat kusam Sinar Jaya mulai terkikis berganti menjadi citra positif yang membanggakan. Sinar Jaya pernah menjadi Perusahaan Otobus terbaik Indonesia pada tahun 2008, PO Pelayanan Terbaik Lebaran 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, dan 2010 dari Menteri Perhubungan. (sumber: Fanspage Sinar Jaya Megah Langgeng)

Saya rasa Sumber Kencono juga harus segera melakukan perubahan mendalam agar resiko-resiko kecelakaan di jalan raya dapat diminimalisir sekecil mungkin. Kita tentu tidak ingin trayek Sumber Kencono dicabut, namun kita juga tidak ingin mendengar kembali kecelakaan yang melibatkan Sumber Kencono.

Sebenarnya, Sumber Kencono adalah perusahaan otobus yang mempunyai banyak kelebihan. Jam keberangkatan yang hampir nonstop 24 jam dengan interval yang tidak terlalu lama (rute Surabaya – Yogyakarta), menawarkan fasilitas penyejuk ruangan (AC-air conditioner) namun tarifnya biasa, kelegaan tempat duduk, kelengkapan fasilitas pendukung seperti tabung pemadam kebakaran, tulisan trayek yang jelas di muka bus, samping kanan-kiri serta belakang, adanya stiker nomor pengaduan, memberi “Kartu Langganan”, serta ciri khas lampu neon bertulis “Sumber Kencono” diatas muka bus. Dari sisi pengemudi, manajemen mempunyai persyaratan yang ketat dalam seleksi pengemudi. Calon pengemudi tidak hanya diuji keahlian dalam mengemudikan bus dan memahami rambu-rambu lalu lintasan. Namun juga di tes psikologi. Sewaktu hendak berangkat keluar dari garasi, pengemudi dan kru juga diberi pembekalan."Kita diinstruksikan agar mengutamakan keselamatan penumpang dan jangan ugal-ugalan. Itu disampaikan setiap kita akan mengeluarkan bus dari garasi," Kata salah seorang pengemudi seperti dikutip dari Okezone.com.

Belum lama ini, salah seorang pengemudi Sumber Kencono bahkan mendapat penghargaan sebagai Pengemudi Santun 2011 versi Polda Jatim. “Penilaian tersebut diambil secara langsung dari masyarakat pengguna Bus melalui SMS service jadi sangat objektif," jelas Dir Lantas Polda Jatim Kombes Pol Sambudi Gusdian di Mapolda Jatim, dalam Tribun Jogja. Adapun proses pemilihan ini digelar sejak awal puasa tahun ini dengan tajuk sayembara Mudik Lebaran 2011. Cara ikut sayembara ini gampang, cukup ketik POL [spasi] SANTUN#YAatau TIDAK#NOPOL KENDARAAN lalu kirim ke 6768. Selain cara ini, pihaknya juga menggandeng Universitas Jember untuk menyebar kuisioner penilaian PO dan sopir-sopir di jalan.

Dari beberapa kelebihan Sumber Kencono tersebut, saya kira tinggal memoles ulang dengan sungguh-sungguh untuk membuang pandangan negatif masyarakat terhadap Sumber Kencono. Dan salah satu aspek yang menarik bagi saya pribadi untuk dirubah adalah dari sisi tampilan atau livery bus (grafis, corak, warna dsb.). Sekali lagi bahwa ini hanyalah coretan iseng dari seorang pecinta Sumber Kencono. Kira-kira seperti ini hasil coretan iseng saya :D







Perubahan Nama
Nama Sumber Kencono sudah paten bagi masyarakat umum, dan kebanyakan menyingkatnya menjadi SK. Sehingga nama baru yang akan dipakai haruslah benar-benar terlepas dari nama lama namun masih bisa diingat oleh masyarakat umum. Dan pilihannya adalah eSKa, pada huruf S dan K sengaja menggunakan huruf kapital sebagai penanda ciri khas bahwa bus ini dulunya disingkat SK. Begitu juga dengan pilihan font. Menggunakan font yang tidak lagi sama dengan font lama. Semuanya benar-benar baru.

Karoseri Baru
Tak bisa dipungkiri bahwa karoseri Adiputro dari sisi penampilan terlihat menarik dan elegan. Dengan menggunakan model terbaru yaitu seri Jetbus, eSKa terlihat lebih dewasa, sopan di jalan dan benar-benar fresh! (kalau sudah begini, pasar Patas EKA mungkin juga bisa sekalian diambil...Hehehhehe....)







Salam

www.menyapamentari.com



1 comments:

heri said...

SK Pake mesin belakang gimana?

 

Copyright © 2010-2013 Menyapa Mentari All Rights Reserved | Developed by PIXIAstudio